Rabu, 08 April 2015

Jiwa Terakhir Voldemort







Menunggu Harry Potter datang untuk mati, ini sangat menyenangkan. Harry Potter yang akan mati di tanganku. Aku menunggunya, di hutan terlarang dengan pasukan pelahap mautku. ‘’Belum ada tanda-tandanya bocah itu datang, Tuanku.’’ Aku yang sedang memjamkan mata dengan menggosok tongkatku itu langsung menatap Bellatrix. Dia menunduk dengan hormat padaku, aku maju beberapa langkah untuk memastikan apakah benar.’’ Aku pikir dia sangat berani dan akan datang. Ini mengecewakan, dia berlindung di belakang orang-orang yang membelanya. Waktunya belum habis, aku yakin Potter datang kesini.’’ Aku berjalan kebelakang dan mendapati Potter datang mendekat.
Aku kagum akan kehadirannya, dia benar-benar berani datang tanpa hormat padaku. Dia benar-benar ingin mati di tanganku. ‘’Harry Potter… anak yang bertahan hidup, datang untuk mati.’’ Suara Hagrid yang terikat berteriak itu sedikit menggangguku, tapi aku mengabaikannya. Karena Potter sangat nyata di depanku, dan tinggal satu langkah lagi dia akan mati. Semua yang menyaksikan itu diam, menungguku untuk membunuhnya. Aku bertanya-tanya apakah dia tidak memberikan pesan terakhirnya padaku. Tongkat Elder yang kuat kini tergenggam di tanganku, Potter sudah ada di hadapanku. Aku mengarahkan tongkat itu pada Potter dan …
Avada Kedavra…
Secercah cahaya hijau terang menerangi sebagian hutan, Potter terbaring di tanah. Tapi kenapa tubuhku terasa tercabik-cabik? Tanpa sadar aku juga terbaring di tanah. ‘’Tuanku, apakah kau baik-baik saja? Aku akan mem…’’ Bellatrix belum menyelesaikan kata-katanya aku sudah mendorongnya. ‘’Aku tidak butuh bantuan dari kalian!’’ Ini aneh, kenapa denganku? Apa hubungannya dengan si Potter itu? ‘’Kau! Periksa dia! Katakan padaku apakah dia sudah mati atau hidup?’’ Aku menunjuk Narcissa untuk memeriksa Potter. Suaraku terdengar kesakitan dan marah.
Narcissa mendekat dan memeriksa. ‘’Ya, Harry Potter sudah mati.’’ Senang mendengarnya, Harry Potter telah mati di tanganku. Aku akan membawanya ke Hogwarts untuk menunjukkan bahwa Harry Potter telah mati. Hagrid menggendong mayat Harry Potter menuju kastil Hogwarts bersama para pelahap maut. Aku merasa lega, aku berjalan dengan Nagini di sampingku. Tampak warga Hogwarts keluar dari kastil. Ini saatnya untuk menunjukkan. Gadis bodoh mencoba berlari ke arahku, ‘’Katakan padaku, Neville. Siapa yang di gendong Hagrid?’’ Dia bertanya pada bocah laki-laki bodoh.
‘’Harry Potter… telah mati!’’  Tidak!’ gadis kecil itu meronta tak percaya. ‘’Gadis bodoh, Harry Potter telah mati!. Apa sekarang yang kau harpakan, bodoh?’’ Banyak yang terlihat kaget dan tidak memercayai akan hal ini. Anak yang selama ini bertahan hidup telah mati di tanganku. Aku menoleh kearah pelahap maut ‘’Harry Potter mati!’’ Ini membuatku senang, sontak para pelahap maut tertawa lepas begitu juga aku. ‘’Mulai hari ini, kalian berikan keyakinan kalian kepadaku. Kini saatnya kalian menyatakan diri kalian. Bergabunglah besama kami atau mati.’’ Malfoy junior maju, ya, memang orang tua Draco Malfoy itu bagian dariku juga. Bocah pincang maju, bocah yang lemah. ‘’Well, sebenarnya aku mengharapkan mereka yang lebih baik untuk maju. Dan siapa namamu anak muda?’’ ‘Neville Longbottom’ ‘’Oh, kau anak auror yang mencoba mengkap para pelahku itu yah,aku ingat.’’ Begitu namanya di sebut. Bellatrix tertawa kencang, seperti Neville ini adalah lelucon.
‘’Well, Neville, aku yakin kami bisa menemukan posisi yang bagus untukmu di pasukan kami.’’ ‘Aku tidak bergabung denganmu, aku hanya akan menyampaikan sesuatu.’’ Aku meremas tanganku, baiklah katakan itu, aku yakin kami semua pasti akan terkesan. ‘orang-orang mati setiap harinya. Teman-teman.. keluarga.. yeah, kita kehilangan Harry hari ini. tapi dia masih bersama kita di sini (di hati).’’ Apa maksud Neville mengatakan hal ini, ini sangat membuang-buang waktu. ‘begitu pula Fred, Remus, Tonks, mereka semua tidak meninggal sia-sia. Tapi kau, karena kamu salah. Karena Harry melindungi kami. Bagi kami, ini belum berakhir!’’ Lelucon apa yang sedang dia katakan ha? Ini membuatku tertawa. Berani-beraninya dia mengeluarkan pedang Griffindor di depanku. Apakah dia mau bertempur lagi setelah Harry mati hingga Hogwarts hancur.
Saat aku akan mengeluarkan beberapa mantra kutukan, Harry bergerak terjatuh dari gendongan Hagrid. Harry Potter belum juga mati? Dia mencoba membunuh Nagini, Horcrux terakhirku. Aku benar-benar marah akan hal ini. Baiklah jika kau ingin bertempur denganku, aku yakin salah satu dari kita akan mati. Dan yah tentu saja, kau yang mati. Pelahap maut ini penghianat, mereka malah lari dariku. Yah, lihat saja nanti setelah Harry mati. Aku benar-benar murka dan marah. Aku ber-apparate dengan Nagini. ‘‘Harry Potter, disitu kau rupanya. Crucio!’’ Mantra kita sama-sama kuat. Bukankah seharusnya tongkat Elder yang lebih kuat.
Kau mencoba menghalangiku, Potter. Kau berusaha membunuh Nagini, ini benar-benar pemborosan. Kau mencoba membunuh Nagini dengan taring Basilisk, sebelum kau mendapatkannya taring itu rusak dengan mantra penghancurku. Aku memukul bocah Potter ini, menendang, aku benar-benar ingin menghabisi Potter. ‘saat kamu mengatakan Professor Snape bahwa tongkat itu tidak melayanimu, karena tongkat itu tidak akan pernah…’ sebelum dia menyelesaikan kata-katanya ‘’crucio!’’ Aku benar-benar ingin menghabisinya.
Ku katakana bahwa aku sudah membunuh Snape. ‘bagaimana jika awalnya tongkat itu bukan milik Snape? Bagaimana jika kesetiaannya adalah milik orang lain? Ayo, Tom. Kita selesaikan ini seperti halnya kita memulainya…bersama-sama.’ Apa yang yang dia ketahui? Dia tidak tahu apa-apa. Aku yang lebih tau masalah ini. berani-beraninya dia memanggilku ‘’Tom’’, aku benci dengan  nama itu. Ayah bodoh, bahkan dia bukan penyihir. Dia melingkarkan tangannya dia leher ku dan menarikku bersamanya ke bawah. Tubuhku terasa menjadi satu, kini aku sadari bahwa ternyata Harry juga Horcrux-ku yang tidak aku sadari. Aku merusaknya sendiri. Aku berusaha menghabisi Potter!
Aku merasa lemah saat terjatuh di tanah, apakah Nagini mati? Kini hanya ada satu jiwa yang melindungiku. Jiwa yang ada di diriku ini, aku harus mengancurkan Potter! Aku berhasil memegang tongkatku. Avada Kedavra. Tongkat Elder lebih kuat dari kepunyaan Potter. Aku meyakinkan itu pada diriku. Aku merasa semakin lemah. Ini menyakitkan, aku ingin menghancurkan diriku sendiri. Tidak! Aku akan mengahancurkan Potter. Aku benar-benar lemah, Potter tidak juga menyerah. Tapi, tongkat ini tidak melayaniku. bukankah tongkat ini milik Severus Snape? Padahal aku sudah membunuhnya agar tongkat ini melayaniku. Aku hancur. ‘Expelliarmus!’ Tongkat Elder terlepas dari tanganku. Tubuhku rapuh, aku lemah, jiwa ku hancur. Aku takut mati, aku berusaha dengan segala cara dengan sihir hitam agar kematian tidak datang padaku.
AKU BENAR-BENAR TAKUT KEMATIAN, SEKARANG AKU MATI! SERPIHAN JIWAKU MELAYANG. AKU BENAR-BENAR HANCUR!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar