Menunggu Harry
Potter datang untuk mati, ini sangat menyenangkan. Harry Potter yang akan mati
di tanganku. Aku menunggunya, di hutan terlarang dengan pasukan pelahap mautku.
‘’Belum ada tanda-tandanya bocah itu
datang, Tuanku.’’ Aku yang sedang memjamkan mata dengan menggosok tongkatku
itu langsung menatap Bellatrix. Dia menunduk dengan hormat padaku, aku maju
beberapa langkah untuk memastikan apakah benar.’’ Aku pikir dia sangat berani dan akan datang. Ini mengecewakan, dia
berlindung di belakang orang-orang yang membelanya. Waktunya belum habis, aku
yakin Potter datang kesini.’’ Aku berjalan kebelakang dan mendapati Potter
datang mendekat.
Aku kagum akan
kehadirannya, dia benar-benar berani datang tanpa hormat padaku. Dia
benar-benar ingin mati di tanganku. ‘’Harry
Potter… anak yang bertahan hidup, datang untuk mati.’’ Suara Hagrid yang
terikat berteriak itu sedikit menggangguku, tapi aku mengabaikannya. Karena Potter sangat nyata di depanku, dan
tinggal satu langkah lagi dia akan mati. Semua yang menyaksikan itu diam,
menungguku untuk membunuhnya. Aku bertanya-tanya apakah dia tidak memberikan
pesan terakhirnya padaku. Tongkat Elder yang kuat kini tergenggam di tanganku,
Potter sudah ada di hadapanku. Aku mengarahkan tongkat itu pada Potter dan …
Avada Kedavra…
Secercah cahaya hijau terang menerangi sebagian hutan, Potter terbaring di
tanah. Tapi kenapa tubuhku terasa tercabik-cabik? Tanpa sadar aku juga
terbaring di tanah. ‘’Tuanku, apakah kau
baik-baik saja? Aku akan mem…’’ Bellatrix belum menyelesaikan kata-katanya
aku sudah mendorongnya. ‘’Aku tidak butuh
bantuan dari kalian!’’ Ini aneh, kenapa denganku? Apa hubungannya dengan si
Potter itu? ‘’Kau!
Periksa dia! Katakan padaku apakah dia sudah mati atau hidup?’’ Aku
menunjuk Narcissa untuk memeriksa Potter. Suaraku terdengar kesakitan dan
marah.
Narcissa
mendekat dan memeriksa. ‘’Ya, Harry
Potter sudah mati.’’ Senang mendengarnya, Harry Potter telah mati di
tanganku. Aku akan membawanya ke Hogwarts untuk menunjukkan bahwa Harry Potter
telah mati. Hagrid menggendong mayat Harry Potter menuju kastil Hogwarts
bersama para pelahap maut. Aku merasa lega, aku berjalan dengan Nagini di
sampingku. Tampak warga Hogwarts keluar dari kastil. Ini saatnya untuk
menunjukkan. Gadis bodoh mencoba berlari ke arahku, ‘’Katakan padaku, Neville. Siapa yang di gendong Hagrid?’’ Dia
bertanya pada bocah laki-laki bodoh.
‘’Harry Potter… telah mati!’’ ‘Tidak!’ gadis kecil itu meronta tak
percaya. ‘’Gadis bodoh, Harry Potter
telah mati!. Apa sekarang yang kau harpakan, bodoh?’’ Banyak yang terlihat
kaget dan tidak memercayai akan hal ini. Anak yang selama ini bertahan hidup
telah mati di tanganku. Aku menoleh kearah pelahap maut ‘’Harry Potter mati!’’ Ini membuatku senang, sontak para pelahap maut tertawa lepas begitu juga
aku. ‘’Mulai hari
ini, kalian berikan keyakinan kalian kepadaku. Kini saatnya kalian menyatakan
diri kalian. Bergabunglah besama kami atau mati.’’ Malfoy junior maju, ya,
memang orang tua Draco Malfoy itu bagian dariku juga. Bocah pincang maju, bocah
yang lemah. ‘’Well, sebenarnya aku
mengharapkan mereka yang lebih baik untuk maju. Dan siapa namamu anak muda?’’
‘Neville Longbottom’ ‘’Oh, kau anak auror yang mencoba mengkap para pelahku itu
yah,aku ingat.’’ Begitu namanya di sebut. Bellatrix tertawa kencang,
seperti Neville ini adalah lelucon.
‘’Well, Neville, aku yakin
kami bisa menemukan posisi yang bagus untukmu di pasukan kami.’’ ‘Aku tidak
bergabung denganmu, aku hanya akan menyampaikan sesuatu.’’ Aku meremas tanganku, baiklah katakan itu, aku yakin kami semua
pasti akan terkesan. ‘orang-orang mati
setiap harinya. Teman-teman.. keluarga.. yeah, kita kehilangan Harry hari ini.
tapi dia masih bersama kita di sini (di hati).’’ Apa maksud Neville
mengatakan hal ini, ini sangat membuang-buang waktu. ‘begitu pula Fred, Remus, Tonks, mereka semua tidak meninggal sia-sia.
Tapi kau, karena kamu salah. Karena Harry melindungi kami. Bagi kami, ini belum
berakhir!’’ Lelucon apa yang sedang dia katakan ha? Ini membuatku tertawa.
Berani-beraninya dia mengeluarkan pedang Griffindor di depanku. Apakah dia mau
bertempur lagi setelah Harry mati hingga Hogwarts hancur.
Saat aku akan mengeluarkan beberapa mantra kutukan, Harry bergerak
terjatuh dari gendongan Hagrid. Harry Potter belum juga mati? Dia mencoba membunuh
Nagini, Horcrux terakhirku. Aku benar-benar marah akan hal ini. Baiklah jika
kau ingin bertempur denganku, aku yakin salah satu dari kita akan mati. Dan yah tentu saja, kau yang mati. Pelahap
maut ini penghianat, mereka malah lari dariku. Yah,
lihat saja nanti setelah Harry mati. Aku benar-benar murka dan marah. Aku
ber-apparate dengan Nagini. ‘‘Harry
Potter, disitu kau rupanya. Crucio!’’ Mantra kita sama-sama kuat. Bukankah
seharusnya tongkat Elder yang lebih kuat.
Kau mencoba menghalangiku, Potter. Kau berusaha
membunuh Nagini, ini benar-benar pemborosan. Kau mencoba membunuh Nagini dengan
taring Basilisk, sebelum kau mendapatkannya taring itu rusak dengan mantra
penghancurku. Aku memukul bocah Potter ini, menendang, aku benar-benar ingin
menghabisi Potter. ‘saat kamu mengatakan
Professor Snape bahwa tongkat itu tidak melayanimu, karena tongkat itu tidak
akan pernah…’ sebelum dia menyelesaikan kata-katanya ‘’crucio!’’ Aku benar-benar ingin menghabisinya.
Ku katakana bahwa aku sudah membunuh Snape. ‘bagaimana jika awalnya
tongkat itu bukan milik Snape? Bagaimana jika kesetiaannya adalah milik orang
lain? Ayo, Tom. Kita selesaikan ini seperti halnya kita
memulainya…bersama-sama.’ Apa yang yang dia
ketahui? Dia tidak tahu apa-apa. Aku yang lebih tau masalah ini.
berani-beraninya dia memanggilku ‘’Tom’’, aku benci dengan nama itu. Ayah bodoh, bahkan dia bukan
penyihir. Dia melingkarkan tangannya dia leher ku dan menarikku bersamanya ke
bawah. Tubuhku terasa menjadi satu, kini aku sadari bahwa ternyata Harry juga
Horcrux-ku yang tidak aku sadari. Aku merusaknya sendiri. Aku berusaha
menghabisi Potter!
Aku merasa lemah saat terjatuh di tanah, apakah Nagini mati? Kini
hanya ada satu jiwa yang melindungiku. Jiwa yang ada di diriku ini, aku harus mengancurkan Potter! Aku berhasil
memegang tongkatku. Avada Kedavra. Tongkat
Elder lebih kuat dari kepunyaan Potter. Aku meyakinkan itu pada diriku. Aku
merasa semakin lemah. Ini menyakitkan, aku ingin menghancurkan diriku sendiri.
Tidak! Aku akan mengahancurkan Potter. Aku benar-benar lemah, Potter tidak juga
menyerah. Tapi, tongkat ini tidak melayaniku. bukankah
tongkat ini milik Severus Snape? Padahal aku sudah membunuhnya agar tongkat ini
melayaniku. Aku hancur. ‘Expelliarmus!’ Tongkat Elder terlepas dari tanganku. Tubuhku
rapuh, aku lemah, jiwa ku hancur. Aku takut mati, aku
berusaha dengan segala cara dengan sihir hitam agar kematian tidak datang
padaku.
AKU BENAR-BENAR TAKUT KEMATIAN, SEKARANG AKU MATI! SERPIHAN JIWAKU
MELAYANG. AKU BENAR-BENAR HANCUR!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar